Ada satu hal dalam perdagangan yang hampir selalu ada, tapi jarang benar-benar disadari yaitu akad. Kita mengucapkannya setiap hari, menjalankannya berkali-kali, namun sering kali melupakannya begitu saja.
Padahal, banyak kegelisahan dalam berdagang bukan lahir dari kerugian, melainkan dari akad yang tidak pernah benar-benar jelas sejak awal.
Akad Itu Tidak Selalu Formal
Ketika mendengar kata akad, sebagian orang langsung membayangkan ijab kabul yang panjang dan kaku. Seolah akad hanya sah jika diucapkan dengan lafaz tertentu. Padahal dalam realita pasar, akad sering terjadi secara sangat sederhana.
“Ya
sudah, segitu saja.”
“Ambil saja, yang penting
jalan.”
“Sudah biasa seperti ini.”
Kalimat-kalimat sederhana itu sebenarnya adalah akad. Ia adalah tanda persetujuan, kesepakatan, dan kerelaan atau setidaknya, yang dianggap sebagai kerelaan.
Masalah muncul ketika kesepakatan itu kabur.
Ketika Akad Tidak Jelas, Masalah Menyusul
Banyak persoalan dagang yang kita temui sehari-hari berakar dari satu hal yang sama yaitu akad yang tidak terang.
Barang dikirim tanpa penjelasan detail, lalu pembeli kecewa. Harga disepakati di awal, tapi berubah di tengah jalan. Tanggung jawab tidak pernah dibicarakan, namun tuntutan selalu datang belakangan.
Secara kasat mata, transaksi tetap terjadi. Uang berpindah, barang sampai. Tapi setelah itu, muncul perasaan yang sulit dijelaskanrasa tidak enak, penyesalan, bahkan konflik.
Di sinilah akad seharusnya hadir sebagai penjaga, bukan sekadar formalitas.
“Semua Juga Begitu” Bukan Alasan
Salah satu pembenaran paling sering kita dengar adalah: “di pasar memang sudah begitu.” Seolah kebiasaan bisa menghapus tanggung jawab.
Padahal muamalah tidak menilai apakah sebuah praktik itu umum, melainkan apakah ia adil dan jelas bagi semua pihak. Kebiasaan tidak selalu salah, tetapi kebiasaan yang merugikan dan disengaja adalah persoalan.
Banyak pedagang sebenarnya tidak berniat curang. Mereka hanya ikut arus, takut kehilangan pembeli, atau sekadar tidak ingin ribet. Namun niat baik tidak selalu cukup jika kesepakatan sejak awal tidak jujur.
Akad yang Jelas, Hati yang Lebih Tenang
Akad yang baik bukan akad yang panjang, tetapi akad yang dipahami. Tidak perlu istilah rumit, cukup kejelasan:
- Apa yang dibeli?
- Berapa harganya?
- Bagaimana kondisinya?
- Siapa bertanggung jawab jika terjadi masalah?
Kejelasan ini mungkin membuat transaksi terasa lebih lambat di awal, tapi ia menghemat banyak persoalan di belakang.
Banyak pedagang merasakan satu hal yang sama ketika mulai memperjelas akad pembeli yang tepat akan bertahan, sementara yang hanya mencari celah akan pergi. Dan itu sering kali justru membawa ketenangan.
Refleksi untuk Kita Semua
Sebelum
setiap transaksi, ada baiknya kita bertanya pelan-pelan pada diri
sendiri
jika
posisi ditukar, apakah saya benar-benar rela dengan kesepakatan ini?
Pertanyaan ini sederhana, tapi sering menjadi cermin paling jujur dalam bermuamalah.
Berdagang dengan Kesadaran
Akad bukan penghalang rezeki. Ia adalah penjaga agar rezeki yang datang tidak membawa kegelisahan. Dalam dunia dagang yang serba cepat, kesadaran sering tertinggal. Padahal justru di situlah nilai muamalah bekerja.
Berdagang adalah urusan dunia. Tetapi cara kita berdagang, menentukan bagaimana dunia itu kita jalani.
Ditulis
oleh Agung Chomala
· 19 Sya‘ban 1447 H ·
Artikel
: kiblat.info
